BAHAYA BERHUTANG




Cerita Utang

Nama : Ayyas Yusufa Haikal Ahmad. 

  Disuatu hari, hiduplah lelaki sebut saja Rizki, Dia telah beranjak dewasa, sehari hari dia menggunakan motor warisan ayahnya. Saat dia mendapatkan pekerjaan, dia menjual motor ayahnya untuk dijadikan DP membeli motor baru yang lebih mahal dengan tujuan untuk memenuhi gengsi nya bahwa dia adalah seseorang yang sudah memiliki pekerjaan, dia mencicil motor tersebut selama 5 tahun.

 

  Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa sudah 5 tahun dia bekerja di kantor tersebut, gaji Rizki pun bertambah, kemudian motornya dijual untuk dijadikan DP membeli mobil baru dengan cicilan selama 5 tahun, tujuannya agar terlihat keren, Setelah itu Rizki bekerja lebih keras dan giat lagi agar bisa membayar cicilan mobil itu.

 

  Setelah 10 tahun dia bekerja akhirnya Rizki menikah dan memiliki anak, kemudian Rizki meminjam uang dari kantor untuk dipakai DP rumah dengan cicilan selama 25 tahun, agar terlihat mapan secara finansial. Setelah itu Rizki bekerja lebih keras dan lembur sampai tengah malam setiap harinya untuk membayar cicilan rumah dan membeli berbagai macam perabotan rumah tangga untuk mengisi rumah nya yang kosong.

 

  20 tahun bekerja kebutuhan Rizki semakin tinggi, anaknya yang sudah besar butuh kendaraan untuk kuliah dan akhirnya Rizki meminjam duit dari kantor untuk membeli mobil buat anaknya dan membayar dengan system cicilan, Setelah 30 tahun bekerja keras semua cicilannya belum juga lunas.

 

  Akhirnya Rizki tetap bekerja keras untuk membayar cicilannya dan tanpa disadari usianya sudah 60 tahun saat itu, Rizki sangat ingin pension dan menikmati hidup dimasa tua tapi Rizki tidak bisa karena cicilannya masih banyak. Kemudia Rizki meninggal dan utang cicilannya di wariskan kepada anak-anaknya.

 

 

Hiduplah sesuai kebutuhan – Bergaya sesuai kemampuan



  
Hidup dan bergayalah sesuai kemampuan dan kesanggupan kita jangan terlalu memaksakan untuk hal hal yang tidak terlalu penting, apalagi untuk tercapai tujuan yang tidak terlalu penting itu manusia sampai memaksakan diri dengan mengutang dan meyicil untuk membayarnya.

 

  Coba kita renungkan berapa banyak waktu yang manusia habiskan hanya untuk membayar cicilan yang seperti tak ada ujungnya, cicilan lama belum lunas muncullah cicilan baru. Membeli sesuatu yang bisa dibilang tidak terlalu penting apalagi mendesak.

 

   Begitulah sifat manusia yang tidak pernah merasa puas, melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, tidak peduli jika harus menyicil bertahun tahun dan cara membayar nya pun harus dengan bekerja keras hingga lembur sampai larut malam.  

                                                

 Cukup hidup sederhana dengan hati merasa tenang tidak ada rasa was was atau pikiran karena memiliki banyak hutang, jangan sampai kita memaksakan hidup untuk terlihat mewah dan keren tetapi kita belum sanggup untuk membeli ataupun memilikinya.

 

  Jika kita ingin bergaya ataupun ingin membeli barang dengan tujuan agar terlihat lebih keren tetapi kita sendiri belum sanggup membelinya, maka lebih baik direm dulu keinginan tersebut, sambil menabung perlahan.

 

  Jangan sampai kita menggunakan jalan pintas yaitu dengan mengutang, karena dikhawatirkan kita tidak bisa melunasi cicilan tersebut dan kita tidak akan tenang dimasa tua karena hutang hutang kita di masa muda.

 

  Lebih parah saat kita meninggal nanti dan kita belum sanggup untuk melunasi hutang maka hutang itu akan diwariskan kepada anak kita nanti.

 

  Rezeki dari Allah pasti cukup untuk kebutuhan hidup jika kita hamba yang bersyukur, begitu sebaliknya akan selalu merasa kurang jika kita tidak pandai bersyukur atau kufur.

 

 




Komentar